Hasil UN SMP Tahun 2018 DKI Jakarta

UN SMP

UN SMP. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan (Kemendikbud) merilis hasil UN SMP (Ujian Nasional Berbasis KomputeR) sekolah menengah pertama (SMP). Hasilnya, nilai rata-rata UNBK SMP mengalami penurunan.

Hasil UNBK di SMP negeri, peningkatan nilai hanya ada di pelajaran Bahasa Inggris. Namun, secara rata-rata, nilai UNBK di SMP negeri mengalami penurunan.

Bahasa Inggris mengalami kenaikan, matematika mengalami penurunan dan IPA juga. Jadi penurunan di sekolah negeri rata-rata nilai tahun 2018 untuk negeri 53,42. Sedangkan pada UNBK tahun 2017 56,27.
Tahun ini Kemendikbud mengurangi soal berbobot mudah. Soal itu diganti soal berbobot sedang. Hasilnya masih banyak yang belum bisa menjawab soal berbobot sedang-sulit.

Berikut daftar daftar 10 sekolah (SMP) dengan nilai rata-rata un tertinggi. Berdasarkan jumlah nilai rata-rata UN SMP tahun pelajaran 2017/2018, sebagai berikut:
SEKOLAH NILAI
SMP Labschool Kebayoran 349,20
SMPK 2 Penabur 347,65
SMP Negeri 115 347,65
SMP Djuwita 347,38
SMP Labschool Jakarta 345,14
SMP Santa Ursula 343,50
SMP Negeri 41 343,40
SMP Negeri 49 341,10
SMP Negeri 75 339,73
SMP Negeri 225 338,99
Diolah dari Kompas.com

10 sekolah dengan nilai rata-rata UN SMP Matematika tertinggi di DKI Jakarta:

01. SMP Djuwita:  91.88
02. SMPK 8 BPK Penabur: 91.27
03. SMPN 41: 91.22
04. SMP Kanisius: 90.84
05. SMPN 115: 90.70
06. SMP Santa Ursula: 90.44
07. SMPK 2 Penabur: 90.35
08. SMP LabSchool Kebayoran: 90.17
09. SMP LabSchool Jakarta: 88.28

10. SMPN 49:87.79

berikut daftar 10 sekolah dengan nilai rata-rata UN SMP Bahasa Indonesia tertinggi di DKI Jakarta:
01. SMP Sinar Pengharapan Utama : 92.00
02. SMPN 115 : 91.52
03. SMPN 41 : 90.84
04. SMP Djuwita : 90.25
05. SMPN 49 : 90.23
06. SMPN 75 : 90.19
07. SMP Santa Ursula : 90.42
08. SMPN 85 : 89.41
09. SMP Kanisius: 89.20

10. SMP NEGERI 111 : 88.92

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan evaluasi atas merosotnya rata-rata nilai ujian nasional (unas) tahun ini dan tahun lalu. Opsi yang dikaji antara lain adalah mengembalikan nilai unas sebagai penentu kelulusan siswa. Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan, tidak dijadikannya nilai unas sebagai syarat kelulusan berdampak secara psikologis pada siswa. Bentuknya, etos siswa untuk belajar menurun. “Salah satunya mungkin itu. Mo­tivasi siswa, motivasinya tidak terlalu serius,” ujarnya di kompleks Istana Negara, Jakarta, kemarin (4/5).

“Tahun 2018 ini kita kurangi soal yang mudah tapi lebih kepada soal yang bobotnya sedang. Hasil analisis kami, kemampuan anak-anak kita mayoritas ini kemampuannya hanya menjawab soal-soal yang (tingkat kesulitannya) mudah ke bawah atau menengah ke bawah. Sebagaimana yang perlu diingatkan bahwa UN ini menguji apa yang seharusnya diajarkan secara standar bukan yang sungguh-sungguh diajarkan,” jelas Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno.

 

Guru ke Rumah A&B

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *