Pengetahuan Sebagai Sumber Informasi Kebenaran

Pengetahuan

Pengetahuan berasal dari kata tahu. Kita menjadi tahu tentang satu hal, berawal dari masuknya data, atau informasi ke dalam sistem penyimpanan (memory). Data yg masuk pada memory bisa terjadi dengan sengaja melalui proses pengidentifikasian, analisis, sehingga memunculkan penilaian atau kesimpulan. Atau data yang masuk spontan melalui panca Indra. Seperti sesuatu yang tiba-tiba terlihat, terdengar, tersentuh, terasa dan seterusnya. Pengetahuan inderawi merupakan tingkat pengetahuan terendah. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya tidak fokus. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, terjadi penataan sistimatika, metoda, sehingga menjadi pengetahuan yang  terstruktur dengan jelas.

Pengetahuan setidaknya dikelompokkan pada 3 jenis, pengetahuan ilmu (ilmu pengetahuan atau sains), pengetahuan filsafat (filsafat), pengetahuan agama (agama). Pengelompokan tersebut atas dasar perbedaan sumber data atau informasi, metode dan sistematika, dalam membangun data untuk menjadikannya sebuah pengetahuan.  Pengetahuan inilah selanjutnya dijadikan rujukan atau referensi saat mencari suatu kebenaran.

Manusia umumnya berusaha mencari kebenaran. Cara memperoleh kebenaran antara lain menggunakan rasio dan/atau melalui pengalaman (empiris).  Pengetahuan yang dijadikan rujukan tentu pengetahuan yang memiliki nilai kebenaran. Berikut ini beberapa pandangan tentang teori kebenaran, diantaranya:

1. Teori Korespondensi

Suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai kesesuaian dengan kenyataan (realitas empirik)”, Contoh, ilmu-ilmu pengetahuan alam. Teori kebenaran ini paling awal (tua) yang berasal  dari teori pengetahuan Aristoteles. Pernyataan benar jika berkorespondensi (berhubungan) terhadap fakta yang ada,  dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

Misalnya:  “matahari terbit dari timur”, maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan tersebut bersifat faktual, atau sesuai dengan faktanya

2. Teori Koherensi atau Konsistensi

Suatu pernyataan dapat dikatakan benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang di anggap benar. Pernyataan:  “semua yang makhluk hidup akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan “bahwa manusia akan mati” adalah benar pula, sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.Pertimbangan adalah benar jika pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya, yaitu yang koheren menurut logika.

3. Teori Pragmatis

Menurut teori ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung pada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide adalah benar apabila ia mambawa kepada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku pada praktek, apabila ia mempunyai nilai praktis. Kebenaran terbukti oleh kegunaannya, oleh hasilnya dan oleh akibat-akibat praktisnya.

Teori ini juga dikenal dengan teori problem solving, artinya teori yang dengan itu dapat memecahkan segala aspek permasalahan. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Maka menurut teori ini, tidak ada kebenaran mutlak, universal, berdiri sendiri dan tetap. Kebenaran selalu berubah dan tergantung serta dapat diroreksi oleh pengamalan berikutnya. Tokoh dalam teori ini: William James dan John Dewey.

4. Teori Konsensus

Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut. Masyarakat sains bisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai komitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadi determinan penting dari perilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompok menerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersamayang bisa melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak tertulis.

4. Teori Performatif

Kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh kebenaran berdasarkan  fatwa ulama, atau organisasi tertentu. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh pemegang otoritas tertentu, walaupun mungkin saja keputusan tersebut bertentangan dengan bukti-bukti empiris. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada (tujuan) kehidupan sosial yang rukun, keberagamaan yang damai,  dan sebagainya.

Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif umumnya tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.

5. Teori Kebenaran Semantis

Menurut teori kebenaran semantik, suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Apakah proposisi itu pangkal tumpuannya pengacu (referent) yang jelas? Jadi, memiliki arti maksudnya menunjuk pada referensi atau kenyataan, juga memiliki arti yang bersifat definitif.

6. Agama sebagai Teori Kebenaran

Salah satu cara menemukan kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia. Teori ini lebih mengedepankan wahyu yang bersumber dari Tuhan. Manusia mencari dan menentukan kebenaran sesuatu dalam agama mencari jawaban tentang masalah melalui kitab suci, dengan demikian suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.

Dari uraian  di atas, maka kita bisa memahami kondisi kelompok masyarakat tertentu terkait dengan nilai kebenaran yang digunakan sebagai rujukannya.

__________________

By Emris Abe

Universitas Indonesia

Membangun Kecerdasan

Likuafaksi Tanah

 

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *