Pengetahuan Seseorang Tercermin Pada Prilaku

pengetahuan

Prilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimilikinya. Prilaku ini nampak pada cara berkomunikasi, bersosialisasi, dan bertindak dalam kesehariannya. Pengetahuan berperan sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian. Oleh karenanya pengetahuan dengan nilai kebenaran tinggi menjadi sangat penting untuk diketahui. (Baca pengetahuan dan teori kebenaran. (klik link berikut:  Sumber Informasi Kebenaran).

Atas pengetahuan yang dimilikinya, maka dapat dikategorikan sebagai berikut:

Orang Yang Tahu:

  1. Tahu dan menyadari tentang pengetahuan yang dimilikinya. (1)

  2. Tahu dan menyadari tentang pengetahuan yang tidak dimilikinya. (2)

Orang yang Tidak Tahu:

  1. Tidak tahu dan tidak menyadari tentang pengetahuan yang dimilikinya. (3)

  2. Tidak tahu  dan  tidak menyadari tentang pengetahuan yang tidak dimilikinya. (4)

Yang Tahu

Orang dengan kategori (1) dan (2) adalah orang yang arief dalam berucap, bersikap, berprilaku dan seterusnya. Ia akan bertindak dalam batasan wajar, karena ia tahu apa yang ia tahu, dan tahu sebatas apa tahu yang ia miliki itu. Dan ia memiliki sikap curiosity yang tinggi sebagai konsekuensi kesadaran atas keterbatasan pengetahuan yang ia miliki. Curiosity adalah hasrat ingin tahu yang kuat, yang memotivasi untuk mencari tahu tentang satu hal.

Saya teringat ucapan seorang Profesor dalam satu perkuliahan di Univ. Indonesia (Prof.  I Made Sandy), mengatakan: “Jika kita tidak tahu nilai kuantitatif dalam satu permasalahan, sesungguhnya kita tidak tahu apa-apa”.

Demikian dengan “Paradoks Sokrates” yang mengatakan: "Satu-satunya hal yang kuketahui adalah, bahwa aku tidak tahu apa-apa". Pada terjemahan lain: "Saya mengetahui satu hal, yaitu, bahwa saya tidak tahu apa-apa".

Yang Tidak Tahu

Orang dengan kategori (3) dan (4) adalah orang yang bersebrangan sifatnya dengan orang kategori (1) dan (2). Ia tidak “memperhatikan” sekelilingnya, bahwa ada orang lain yang juga tahu. Bahkan mungkin bukan saja ada, tetapi banyak yang lebih tahu. Lupa pada pribahasa di atas langit masih ada langit. Arti pribahasa ini: Ketika  merasa lebih tahu, hebat atau pandai, ingat masih ada orang lain yang lebih hebat atau lebih pandai. Terlebih lagi saat ini informasi begitu mudah diakses siapapun.

————————————–

By Emris Abe

Topik Lain:

Membangun Kecerdasan

Seleksi Masuk PTN 2019

Universitas Indonesia

Sumber Informasi Kebenaran

Pembagian Kekuasaan di Indonesia

 

 

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *