Kompetisi Awal Kehidupan Sebagai Pemenang

kompetisi

Kompetisi atau persaingan adalah bagian dari hidup kita. Hampir pada semua sisi kehidupan kompetisi itu terjadi dan kadang tidak bisa dihindari. Dalam dunia pendidikan, pekerjaan, usaha, termasuk pada pemanfaatan fasilitas atau layanan yang disediakan untuk kita. Kita seolah dituntut untuk memenangkan tiap kompetisi itu. Disadari atau tidak adanya kompetisi inilah yang pada akhirnya melahirkan generasi ke generasi berkembang menjadi lebih baik. Kompetisi bukanlah hal baru yang harus kita alami dalam hidup. Bahkan kita terlahir dari sebuah kompetisi pada awal kehidupan. Saat kita masih berupa cikal bakal kehidupan, yaitu sperma.

Kita Menyisihkan Ratusan Juta Kompetitor  

Betapa hebat peraingan yang terjadi pada detik-detik awal kehidupan kita, saat kita masih berbentuk sperma. Bayangkan, hanya 1 sperma  dari ratusan juta sperma ayah yang membuahi 1 sel telur ibu.  Beberapa referensi menuliskan: Normalnya sekali ejakulasi laki-laki menghasilkan sekitar 300 juta ekor sperma. Biasanya dikeluarkan tiap tiga hari. Dan masih dianggap normal jika memiliki di atas 60 juta sperma. Sperma yang keluar umumnya memiliki sifat gerakan yang berbeda-beda. Ada yang gerakannya lurus dan cepat, ada yang lurus namun lambat, ada yang bergerak-gerak atau berputar-putar di tempat, dan ada pula yang tidak bergerak.

Perjalanan sperma mencari sel telur untuk dibuahi merupakan perjalanan panjang  dan penuh tantangan. Diantara tantanga itu adalah lingkungan asam pada vagina yang membuat sperma tidak mampu hidup lama dan akhirnya mati. Adanya lendir serviks, hanya sperma paling kuat yang dapat berenang menembus lendir serviks ini. Kemudan harus berenang sekitar 18 cm dari serviks menuju ke rahim, kemudian ke tuba falopi untuk mencapai sel telur. Sperma bisa terjebak atau nyasar ke tuba falopi yang salah, atau bahkan bisa mati di tengah pencariannya.

Sperma yang mampu berenang sangat cepat mampu bertemu dengan sel telur. Perjalanan sperma belum selesai walaupun sudah bertemu dengan sel telur. Satu telur mungkin bisa didekati oleh ratusan sperma, namun hanya sperma terkuat yang dapat menembus dinding luar sel telur. Untuk selanjutnya terjadi pembuahan, dan akhirnya tumbuh menjadi individu baru. Itulah kita, kita yang berhasil melewati perjalan panjang dan berbagai rintangan. Puluhan juta sperma yang berkompetisi dengan kita saat hendak mendekati sel telur telah berguguran. Hanya 1 yang berhasil hidup, yaitu anda pembaca, dan saya.

Mari kita simak kompetisi sperma mencapai sel telur, sebagai proses awal kehidupan kita.

Kita pemenang kompetisi pada awal kehidupan kita. Lahir dari sebuah persaingan, dan hidup dalam kompetisi. Akankah kita tiba digaris finish kehidupan sebagai pemenang?  Atau bernasib sama dengan puluhan juta sperma yang kita kalahkan dahulu? Boleh jadi seperma-sperma itu menaruh harapan pada kita.  Atas nama ayah yang sama, mereka berharap kita memenangkan setiap kompetisi hingga di garis finish kehidupan. Mereka berharap kita mampu mengukir nama baik, sebagai cerminan kebahagian hidup kita. Lalu membuat seorang ayah, tempat sperma berasal, dan Ibu penyedia sel telur, tersenyum bangga. 

____________

By Emris Abe

Seleksi Masuk PTN 2019

Universutas Indonesia

Membangun Kecerdasan

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *