Siswa SMP Bunuh Diri karena PJJ di Tarakan

Dilansir dari JawaPos.com:  KPAI Terima Laporan Siswa SMP Bunuh Diri karena PJJ di Tarakan, lebih rinci Jawapos menurunkan berita  (edisi 30 oktober 20. 08:51:58) sebagai berikut:

Kondisi pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah berlangsung lama, artinya sudah banyak yang mulai bisa beradaptasi. Namun, ada juga siswa yang justru makin terbebani.Mengenai itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun mendapatkan laporan bahwa salah satu siswa SMP di Tarakan, Kalimantan Utara mengalami depresi yang berujung bunuh diri akibat PJJ.

“KPAI menyampaikan duka mendalam atas wafatnya seorang siswa di salah satu SMP di Tarakan, Kalimantan Utara. Ananda ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi tempat tinggalnya,” terang Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).

Dia pun mengungkapkan alasan siswa tersebut mengakhiri hidupnya, yakni di karenakan tugas menumpuk yang diberikan oleh pihak sekolah.

“Tewasnya siswa yang berusia 15 tahun tersebut mengejutkan kita semua, apalagi pemicu korban bunuh diri adalah banyaknya tugas sekolah daring yang menumpuk yang belum dikerjakan korban sejak tahun ajaran baru. Padahal syarat mengikuti ujian akhir semester adalah mengumpulkan seluruh tugas tersebut,” ungkapnya.

Ibunda korban menjelaskan, anak tersebut memang memiliki masalah dengan pembelajaran daring. Anak korban lebih merasa nyaman dengan pembelajaran tatap muka, karena PJJ daring tidak disertai penjelasan guru dan hanya memberi tugas-tugas yang berat dan sulit dikerjakan.

Baca juga: Kemendikbud Tanggapi Siswi Bunuh Diri yang Diduga Akibat Tugas PJJ

Retno melanjutkan, pada PJJ fase pertama, kesulitan PJJ masih bisa diatasi karena materi pembelajaran sudah sempat diterima para siswa selama 9 bulan dan saat PJJ sudah menjelang ujian akhir tahun. Namun ketika PJJ fase kedua pada tahun ajaran baru (Juli 2020), saat naik ke kelas IX (sembilan), semua materi baru dan penjelasan dari guru sangat minim, sehingga banyak penugasan yang sulit dikerjakan atau diselesaikan para siswa.

“Akhirnya tugasnya menumpuk hingga jelang ujian akhir semester ganjil pada November 2020 nanti,” ujarnya.

 

Adapun, pada 26 Oktober lalu, ibu korban mengaku menerima surat dari pihak sekolah yang isinya menyampaikan bahwa anak korban memiliki sejumlah tagihan tugas dari 11 mata pelajaran. Rata-rata jumlah tagihan tugas yang belum dikerjakan anak korban adalah 3-5 tugas per mata pelajaran.

“Jadi bisa dibayangkan beratnya tugas yang harus diselesaikan ananda dalam waktu dekat, kalau rata-rata 3 mata pelajaran saja, ada 33 tugas yang menumpuk selama semester ganjil ini,” imbuhnya.

Menurut orangtua korban, tugas yang belum diselesaikan itu bukan karena anaknya malas, tetapi karena memang tidak paham sehingga tidak bisa mengerjakan. Sementara orang tua juga tidak bisa membantunya.

“Ibu korban sempat berkomunikasi dengan pihak sekolah terkait beratnya penugasan sehingga anaknya mengalami kesulitan, namun pihak sekolah hanya bisa memberikan keringanan waktu pengumpulan, tapi tidak membantu kesulitan belajar yang dialami ananda,” terang Retno.

Persoalan lain, peranan orang tua ikut membuat siswa banyak tertekan karena mereka memang tidak memiliki kemampuan ikut membimbing atau mengajar. “Saya tidak bisa menyelesaikan karena memang saya tidak bisa mengerjakannya, enggak paham materinya,” kata sang ibu saat meminta anaknya mengerjakan, sementara orangtua korban juga tidak memiliki kapasitas membantu anaknya mengerjakan tugas-tugas tersebut.

Orangtua korban menduga kuat kalau surat dari sekolah yang diterima sehari sebelum korban memutuskan mengakhiri hidupnya adalah merupakan pemicu. Pasalnya dalam surat tersebut ada ‘tekanan’ jika tugas-tugas tersebut tidak dikumpulkan ke gurunya, maka anak korban tidak bisa mengikuti ujian semester ganjil nantinya.

“Anak korban yang sudah duduk di kelas akhir (kelas 9) kemungkinan ketakutan tidak mampu mengerjakan tugas, akhirnya tidak ikut ujian semester dan nanti bisa tidak lulus SMP,” jelasnya.

Barangkali tujuan pihak sekolah hanya sekedar mengingatkan dan memberikan dorongan agar para siswanya mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugasnya yang tertumpuk. “Namun, bagi remaja yang mengalami masalah mental, kecemasan, stres selama masa pandemi karena ketidakmampuan mengerjakan tugas-tugas PJJ, memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan pikiran tentang bunuh diri,” tandasnya.

Share Button

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *